Dirapuhkan lagi, dirapuhkan lagi. Dimarahi makin tinggi. Seharusnya yang mangkel siapa kok malah balik dia yang mangkel. Huft, susah dibilang ya sudah, susah diajak komunikasi ya diem saja. Diharapin jadi penyemangat malah nyengat. Ya sudah mending cari temen ngobrol, mending cari hiburan sendiri.
Archive for February 2015
12 Februari 2015
.
Rasa hormat itu tiada untukku
Aku seperti tak berarti
Selama watakmu pemberontak selamanya aku tak kan berarti
Bagaimana aku mengajarkanmu surga
Sementara sikap itu liar
Biarlah waktu yang mengikis semua
Karena bagiku nurani itu kini membatu
Aku terlalu gila dihadapanmu
Tapi biarlah semua kuserahkan padaNya
Kalau prinsipku salah biarlah kumenanggung semua
Namun bila sebaliknya sungguh celaka dirimu
Category Suara hati
Dear Istriku #2
.
24 Desember 2014 lalu aku mendapat kabar baik, akhirnya saya lulus seleksi dan dinyatakan diterima sebagai calon karyawan. Yeah, jujur ini antara senang dan sedih. Nyaris tak ada expresi apapun yang terlihat. Senang karena pada akhirnya bisa menyamakan strataku dengan istri, sedih karena firasatku akan meninggalkan anak istriku. Tanggal 1 - 6 Februari 2015 saya harus menempuh orientasi di bumi marinir cilandak sebagai prasyarat calon pegawai. Beberapa hari sebelum berangkat saya mendapat kabar Bapak mertua sakit stroke. Semakin bingung karena pada beliau saya berharap mereka bisa berkumpul di Jogja dengan anak istri selama saya tinggal berangkat. Sedikit lega karena akhirnya ada ibu saya yang bisa menemani anak istri saya di Jogja.
31 Januari 2015 saya berangkat meninggalkan keluarga kecil saya untuk persiapan orientasi. Tidak ada alat komunikasi apapun yang diijinkan selama dalam bumi marinir cilandak. Saya sangat benci dengan keadaan ini kenapa mesti terulang kembali disaat usia saya sudah menginjak kepala 3. Hari pertama saya lalui dengan amat berat, malam hari hanya bengong, serasa hambar, sudah terbiasa tidur bertiga dalam kamar layak, kini dalam barak yang hanya ada orang-orang senasib.
Keesokan hari, hati semakin tersayat, ada sebuah lagu yang harus dinyanyikan tiap kami lari dalam barisan.
"Dari berbagai penjuru kami datang tuk bersatu.. siang malam tak terasa suka duka di cilandak.. selamat tinggal kekasihku beta pergi tak kan lama.. hanya satu minggu saja.. suka duka di cilandak.. bila adek kangen abang beli saja terong ungu.. sebagai pengganti diriku daripada tetanggamu..". Sumpah lagu ini sangat menyayat hati. Di tiap kesempatan salat, kini saya hanya bisa berdoa "Ya Allah jagalah anak dan istri hamba selalu, bahagiakanlah mereka dan berikanlah hamba disini kekuatan", hanya doa itu yang selalu kusebut tiap selesai sujudku.
Kamis 5 Februari 2015 menjelang penutupan, ada kabar buruk menimpah, pelatih memanggil saya untuk mengabari bahwa ibu mertua meninggal karena kecelakaan pada tanggal 4 Februari kemarin. Yah Allah cobaan apalagi yang engkau berikan, jika hamba boleh protes, doa yang hamba sebut malah sebaliknya yang terjadi. Saya meratapi bagaimana kesedihan istri hamba atas musibah ini. Hanya pinjaman handphone yang diberikan untuk menghubungi keluarga. Besok adalah hari terakhir orientasi saya harus pulang ke keluarga istri saya.
Tgl 6 Februari tepat saat adzan maghrib berkumandang kami meninggalkan bumi cilandak kembali ke kantor perum pusat di cengkareng. Esok hari rencana akan diumumkan lokasi penempatan kerja dan langsung diberangkatkan. Setiba disana saya minta ijin untuk pulang. Mereka hanya bisa memberikan waktu yang mepet. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya mengabari istri dan bapak mertua kalau saya tidak bisa pulang karena alasan waktu, sebagai ganti saya juga memberikan penjelasan ke istri bahwa saya akan mengirim uang sejumlah perjalanan saya dengan maksud supaya bisa dipakai biaya selamatan ibu. Tidak ada jawaban balik yang kudengar. Di telpone yang selanjutnya, saya dikatai istri orang yang tidak peduli, tidak mengerti, dicaci tidak butuh uang kiriman dari saya bahkan tiap keputusan saya salah. Sakit memang, ketika istri sendiri bersikap seperti itu. Tapi mau dikata apa, saya demikian bukan karena niat saya.
Saya mencoba jalan lain, saya mencari kontak dengan pejabat di Pekanbaru dimana dikota saya akan ditempatkan. Saya meminta ijin untuk pulang dulu, dengan berbagai penjelasan yang saya utarakan alhamdulillah permohonan ijin saya selama 2 hari dikabulkan.
Kerja jauh dari orang tua memang menyiksa, tapi mau bagaimana kalau rejeki ada di rantau orang. Sekarang istri mengecap saya, bahwa mamanya hanyalah sebatas mertua saja, dan istriku hanyalah sebatas menantu ibuku. Itu saja. Pernyataan istri yang dapat saya simpulkan bahwa saya dan orang tua saya dinilai apatis. Oh Tuhan separah itukah keluarga kami.
10 Februari 2015 saya berangkat ke Pekanbaru dengan berbekal sebuah koper kecil, sebuah tas ransel, dan uang pas-pasan. Saya memulai petualang karir baru, hari pertama begitu menyiksa meninggalkan anak istri dan keluarga di jawa. Saya tinggal disebuah kos ukuran 3x5 m, minimalis dan hanya tersedia sebuah kasur. Saya menangis, bukan karena saya tidak bisa menjalani ini. Tapi kenapa di usia sekarang saya seperti merestart hidup lagi. Tepat 7 tahun lalu saya sudah mengalami hal seperti ini. Ketika saya masih lajang. Ketika saya penempatan di nias untuk pertama kalinya. Kenapa disaat saya sudah memiliki anak dan istri ini terulang kembali. Menata kehidupan lagi dari nol. Untuk apa. Dirumah jogja perabot rumah sudah layak untuk keluarga, mobil hasil jerih payah kami berdua selalu siap menemani kami sekeluarga. Sekarang saya seperti terlempar jauh dari keluarga, saya harus siap melakukan segala aktifitas dengan jalan kaki. Istri yang seharusnya saya harapkan menjadi penguat hidup kini berbalik merapuhkan semangatku. Betapa terkejutnya ketika melalui pesan singkat saya mengajak untuk ikut pindah kesini, dengan tegas istri menolak karena alasan ingin menjaga orang tua (papa). Jawaban yang membuat saya amat sedih, kecewa, ingin mengatai kamu sejadi-jadinya, beginikah sosok istri itu. Saya berusaha keras untuk mengerti keadaannya yang tengah berduka. Tapi jawabannya sungguh tidak beretika. Saya seperti suami yang tak lagi dianggap, saya salut atas kesombongannya. Saya tak lebih berharga dari orang tuanya. Masih belum terbayang bagaimana selanjutnya saya menjalani hidup disini. Pria kesepian, itulah yang sekarang terjadi. Sempat saya berpikir untuk menceraikan saja. Tapi anak saya sudah terlanjur beribu ke dia. Saya sangat mencintai anak saya dan tak berharap anak saya broken karena orang tua.
Kekecewaan ini semoga cepat berlalu, sebagai lelaki saya hanya bisa berusaha keras menegarkan sendiri hati yang kamu rapuhkan. Selama saya pemimpinmu, saya mencoba untuk bertahan sebisa mungkin, karena saya takut pertanggungjawaban kelak bila saya gagal membina rumah tangga ini.
Ya allah ampuni hamba bila selama ini mengecewakan istri hamba. Ampuni juga juga dosanya yang mungkin itu bagian dari kesalahanku membinanya. Bukakanlah pintu hatinya agar senantiasa dia taat padaku. Bukakanlah pintu hatinya agar dia merendah padaku, memohon maaf padaku. Setidaknya ini bisa mengobati laraku dan mengembalikan cinta kami seperti awal kami saling mengenal.
Category Suara hati