Archive for April 2015

21 April 2015


.

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj’alna lil muttaqina imama...

Ya Allah jagalah hamba dalam jalan benar.

16 April 2015


.

Aku ingin bercerita langsung padamu tapi aku tak tega. Lebih baik ku goreskan disini, ku harap cepat atau lambat kamu akan menemukan tulisan ini.

Sepenggal hasrat seorang suami yang sulit untuk dibendung…

Ketika aku lelah dengan beban pikiran dan juga keadaan yang membuat kesepian, sementara kamu jauh, hasrat lelakiku tak bisa tersalurkan. Aku tak mengerti mengapa ini menggebu-gebu ketika kita berjauhan. Yang kuceritakan padamu hanya kata suntuk tanpa kujabarkan lebih detail makna sebenarnya. Yah, aku sedang dalam “mode on”, dan kuharap sebagai istri kamu mengerti isyarat.

Bagiku ini sulit untuk dikendalikan, ketahuilah bahwa usahaku melawan hasrat ini sudah sepenuhnya kulakukan, terutama  saat sendiri dalam kos. Kadang aku masak yang gak jelas rasanya, mendengar music, nonton film, latihan treadmill tanpa alat, nyicil mengkhatam Al Quran, semua sudah kulakukan berharap bisa mengalihkan hasrat yang melanda. Namun, ending dari itu harus berakhir di kamar mandi. Hari demi hari rutinitas seperti ini selalu datang, apa mau dikata sepertinya penyakit lelaki memang seperti itu. Aku khawatir dengan usahaku mengatasi kesepian ini seorang diri. Kadang begitu menggebu ingin rasanya memacari mahasiswi disini, atau paling tidak cari pijat plus, atau jajan di salon yang berjendela remang-remang.

Aku khawatir iman ini runtuh dirundung piluh yang begitu menyiksa, apalagi dengan dengan sekarang gaji yang mencukupi, sangat memungkinkan kalau ingin jajan instan.

Tahukah kamu dengan aku mengubah hobi baru untuk kredit barang-barang, aku ingin mengalihkan sisa nafkah untukmu supaya tidak berlebih di rekening. Ingin berusaha sendiri menutup celah untuk selingkuh.

Tahukah kamu bahwa dengan kamu mengulur waktu tentang apa yang ku mau, itu makin menambah lama proses, dan berarti ini semakin menyiksaku, dan resikonya mungkin bisa membuatku terjerumus. Lalu dosa siapa? Aku sendiri. Ya anggap saja aku yang gak bisa mengajarkanmu kewajiban.

Lalu sekarang apa langkahku? Aku ingin semua mengalir apa adanya, menghargaimu seperti harga demokrasi rumah tangga yang kamu mau, penjelasanku terakhir ku anggap 6 April  lalu dan juga tulisan ini. Kalau memang aku harus sendiri disini tak masalah, aku tetap bertahan sebagai ayah, dan sebisa mungkin sebagai suami. Terlalu berat untuk kupikirkan.

12 April 2015


.

Ketika syahwat melanda..

Jauh dari istri

9 April 2015


.

Masih terasa sakit,,
Dan terus menahan

6 April 2015


.

Bila malam telah datang
Pikiran selalu melayang
Hati tak tenang
Hidup ini serasa kosong
Penantian yang tak kunjung datang

Sampai kapan seperti ini
Kehidupan remang semakin membayang
Wanita wanita disekeliling semakin mengundang
Masih normalkah aku
Kapan kekalutan ini akan berakhir

6 April 2015


.

By. Alm. Ustadz Jefry Al Buchori

Setiap manusia punya rasa cinta,
yang mesti dijaga kesucianya
namun ada kala insan tak berdaya,
saat dusta hampir bertahta
Kuinginkan dia,
yang punya setia.
Yang mampu menjaga kemurniaanya.
Saat ku tak ada,
ku jauh darinya,
amanah pun jadi penjaganya
Hatimu tempat berlindungku,
dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu,
dijadikan engkau istriku
Engkaulah
Bidadari Surgaku
Tiada yang memahami,
sgala kekuranganku
kecuali kamu, bidadariku
Maafkanlah aku
dengan kebodohanku
yang tak bisa membimbing dirimu
Hatimu tempat berlindungku,
dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu,
dijadikan engkau istriku
Engkaulah
Bidadari Surgaku

4 April 2015


.

Aku mencintaimu, terlebih putraku, tapi kenapa kamu menganggap aku tak berarti.
Sekali ini tolong dengarkan aku disini, tolong rasakan kondisiku, juga kebutuhanku. Aku tak sekuat yang dulu bisa sendiri, aku sudah punya anak punya istri penguatku. Sekarang terpisah berjauhan tak ada tempat untukku berbagi, tak ada pendampingku untuk menjalani hari-hari ini. Tak ada semangatku sebagai ayah. Aku berasa sia sia disini sendiri. Jika terus berlarut suatu saat ku pastikan aku akan rapuh, semua yang kusampaikan bukan omong kosong, mungkin ini akan menjadi bom waktu. Kamu tak pernah mendengar aku.
Aku berasa kehilangan sosok istri walaupun kamu ada. Aku merasa kehilangan jati diri sebagai suami. Merasa kehilangan peran ayah, selalu merindukan pangeran kecilku dalam kesendirian ini.
Jangan biarkan rasaku akan jatuh ke orang lain, jujur ada yang lebih menghargai aku ketimbang dirimu, ada yang memperhatikan aku ketimbang dirimu. Aku merasa lebih hidup sebagai suami. Jangan tanyakan sejauh apa hubunganku dengannya, kamu pasti akan sakit hati. Karena demi keluarga aku masih bisa bertahan untuk kalian, walaupun mereka-mereka disini deretan orang yang bersedia untukku. Mencari pengganti istri bagiku mudah, tapi membangun tatanan keluarga yang sudah dijalani itu sulit.
Ingat aku, dulu yang kamu percaya tuk membimbingmu. Yang dulu kamu berikrar mendampingiku. Sekarang lihat aku disini karena kewajibanmu sebagai istri. Kecewa, ketika ku perintah tapi tak didengar, hanya berlalu seperti angin berlalu.
Masih ada kesempatan untukmu, masih tersisa pikiran sehat dan logikaku. Tolong secepatnya jaga aku disini jangan biarkan hatiku padam dan tak bisa menerangi kalian lagi.
Ku tulis karena aku terlalu mencintai kalian, walau bagimu mungkin terasa sakit.

2 April 2015


.

Semoga masih bisa bersabar..