4 April 2015


.

Aku mencintaimu, terlebih putraku, tapi kenapa kamu menganggap aku tak berarti.
Sekali ini tolong dengarkan aku disini, tolong rasakan kondisiku, juga kebutuhanku. Aku tak sekuat yang dulu bisa sendiri, aku sudah punya anak punya istri penguatku. Sekarang terpisah berjauhan tak ada tempat untukku berbagi, tak ada pendampingku untuk menjalani hari-hari ini. Tak ada semangatku sebagai ayah. Aku berasa sia sia disini sendiri. Jika terus berlarut suatu saat ku pastikan aku akan rapuh, semua yang kusampaikan bukan omong kosong, mungkin ini akan menjadi bom waktu. Kamu tak pernah mendengar aku.
Aku berasa kehilangan sosok istri walaupun kamu ada. Aku merasa kehilangan jati diri sebagai suami. Merasa kehilangan peran ayah, selalu merindukan pangeran kecilku dalam kesendirian ini.
Jangan biarkan rasaku akan jatuh ke orang lain, jujur ada yang lebih menghargai aku ketimbang dirimu, ada yang memperhatikan aku ketimbang dirimu. Aku merasa lebih hidup sebagai suami. Jangan tanyakan sejauh apa hubunganku dengannya, kamu pasti akan sakit hati. Karena demi keluarga aku masih bisa bertahan untuk kalian, walaupun mereka-mereka disini deretan orang yang bersedia untukku. Mencari pengganti istri bagiku mudah, tapi membangun tatanan keluarga yang sudah dijalani itu sulit.
Ingat aku, dulu yang kamu percaya tuk membimbingmu. Yang dulu kamu berikrar mendampingiku. Sekarang lihat aku disini karena kewajibanmu sebagai istri. Kecewa, ketika ku perintah tapi tak didengar, hanya berlalu seperti angin berlalu.
Masih ada kesempatan untukmu, masih tersisa pikiran sehat dan logikaku. Tolong secepatnya jaga aku disini jangan biarkan hatiku padam dan tak bisa menerangi kalian lagi.
Ku tulis karena aku terlalu mencintai kalian, walau bagimu mungkin terasa sakit.

Your Reply