16 April 2015


.

Aku ingin bercerita langsung padamu tapi aku tak tega. Lebih baik ku goreskan disini, ku harap cepat atau lambat kamu akan menemukan tulisan ini.

Sepenggal hasrat seorang suami yang sulit untuk dibendung…

Ketika aku lelah dengan beban pikiran dan juga keadaan yang membuat kesepian, sementara kamu jauh, hasrat lelakiku tak bisa tersalurkan. Aku tak mengerti mengapa ini menggebu-gebu ketika kita berjauhan. Yang kuceritakan padamu hanya kata suntuk tanpa kujabarkan lebih detail makna sebenarnya. Yah, aku sedang dalam “mode on”, dan kuharap sebagai istri kamu mengerti isyarat.

Bagiku ini sulit untuk dikendalikan, ketahuilah bahwa usahaku melawan hasrat ini sudah sepenuhnya kulakukan, terutama  saat sendiri dalam kos. Kadang aku masak yang gak jelas rasanya, mendengar music, nonton film, latihan treadmill tanpa alat, nyicil mengkhatam Al Quran, semua sudah kulakukan berharap bisa mengalihkan hasrat yang melanda. Namun, ending dari itu harus berakhir di kamar mandi. Hari demi hari rutinitas seperti ini selalu datang, apa mau dikata sepertinya penyakit lelaki memang seperti itu. Aku khawatir dengan usahaku mengatasi kesepian ini seorang diri. Kadang begitu menggebu ingin rasanya memacari mahasiswi disini, atau paling tidak cari pijat plus, atau jajan di salon yang berjendela remang-remang.

Aku khawatir iman ini runtuh dirundung piluh yang begitu menyiksa, apalagi dengan dengan sekarang gaji yang mencukupi, sangat memungkinkan kalau ingin jajan instan.

Tahukah kamu dengan aku mengubah hobi baru untuk kredit barang-barang, aku ingin mengalihkan sisa nafkah untukmu supaya tidak berlebih di rekening. Ingin berusaha sendiri menutup celah untuk selingkuh.

Tahukah kamu bahwa dengan kamu mengulur waktu tentang apa yang ku mau, itu makin menambah lama proses, dan berarti ini semakin menyiksaku, dan resikonya mungkin bisa membuatku terjerumus. Lalu dosa siapa? Aku sendiri. Ya anggap saja aku yang gak bisa mengajarkanmu kewajiban.

Lalu sekarang apa langkahku? Aku ingin semua mengalir apa adanya, menghargaimu seperti harga demokrasi rumah tangga yang kamu mau, penjelasanku terakhir ku anggap 6 April  lalu dan juga tulisan ini. Kalau memang aku harus sendiri disini tak masalah, aku tetap bertahan sebagai ayah, dan sebisa mungkin sebagai suami. Terlalu berat untuk kupikirkan.

Your Reply