Aku ingin bercerita langsung
padamu tapi aku tak tega. Lebih baik ku goreskan disini, ku harap cepat atau
lambat kamu akan menemukan tulisan ini.
Sepenggal hasrat seorang suami
yang sulit untuk dibendung…
Ketika aku lelah dengan beban
pikiran dan juga keadaan yang membuat kesepian, sementara kamu jauh, hasrat
lelakiku tak bisa tersalurkan. Aku tak mengerti mengapa ini menggebu-gebu
ketika kita berjauhan. Yang kuceritakan padamu hanya kata suntuk tanpa
kujabarkan lebih detail makna sebenarnya. Yah, aku sedang dalam “mode on”, dan
kuharap sebagai istri kamu mengerti isyarat.
Bagiku ini sulit untuk
dikendalikan, ketahuilah bahwa usahaku melawan hasrat ini sudah sepenuhnya
kulakukan, terutama saat sendiri dalam
kos. Kadang aku masak yang gak jelas rasanya, mendengar music, nonton film, latihan
treadmill tanpa alat, nyicil mengkhatam Al Quran, semua sudah kulakukan
berharap bisa mengalihkan hasrat yang melanda. Namun, ending dari itu harus
berakhir di kamar mandi. Hari demi hari rutinitas seperti ini selalu datang,
apa mau dikata sepertinya penyakit lelaki memang seperti itu. Aku khawatir
dengan usahaku mengatasi kesepian ini seorang diri. Kadang begitu menggebu
ingin rasanya memacari mahasiswi disini, atau paling tidak cari pijat plus,
atau jajan di salon yang berjendela remang-remang.
Aku khawatir iman ini runtuh
dirundung piluh yang begitu menyiksa, apalagi dengan dengan sekarang gaji yang
mencukupi, sangat memungkinkan kalau ingin jajan instan.
Tahukah kamu dengan aku mengubah
hobi baru untuk kredit barang-barang, aku ingin mengalihkan sisa nafkah untukmu
supaya tidak berlebih di rekening. Ingin berusaha sendiri menutup celah untuk selingkuh.
Tahukah kamu bahwa dengan kamu
mengulur waktu tentang apa yang ku mau, itu makin menambah lama proses, dan
berarti ini semakin menyiksaku, dan resikonya mungkin bisa membuatku terjerumus.
Lalu dosa siapa? Aku sendiri. Ya anggap saja aku yang gak bisa mengajarkanmu
kewajiban.
Lalu sekarang apa langkahku? Aku ingin
semua mengalir apa adanya, menghargaimu seperti harga demokrasi rumah tangga
yang kamu mau, penjelasanku terakhir ku anggap 6 April lalu dan juga tulisan ini. Kalau memang aku
harus sendiri disini tak masalah, aku tetap bertahan sebagai ayah, dan sebisa
mungkin sebagai suami. Terlalu berat untuk kupikirkan.