Ego itu akan sampai kapan tertanam, ingin menang, ingin dimengerti. Tahukah kamu aku juga ingin dipahami.
Apa pedomanmu selama ini sebagai istri. Pola didikan dari keluarga, apa agamamu? Kamu hidup untuk siapa? Apa yang sudah bisa kamu perbuat?
Aku sudah terlalu besar mengorbankan karir dan berjuang untuk bersamamu. Sekarang aku terdampar jauh. Inikah balasannya ketika kini ku meminta pengorbananmu sebagai istri.
Aku hanya berasa membuang waktu tanpa ada manfaat. Sisa umur hanya berasa terbuang sia-sia. Dimana keluarga kecilku yang seharusnya mendampingiku. Peranku suami yang kamu abaikan. Peranku ayah yang kamu buang waktunya. Nasihat ortumu yang lebih berharga mengalahkan omonganku.
Haruskah aku terus sabar, mengikuti lagi apa maumu. Kapan pengabdian itu untukku. Apa mungkin telah pergi.
Kenyamanan yang kamu sebut-sebut tiada untukmu, karena kejahatanku kah? Bisa jadi tak pernah ikhlas mendengarku? Atau mungkin itu buah dari ego yang tak terpenuhi?
Tetesan airmata suami yang tak pernah kamu tahu, kuharap bisa meluluhkan hatimu yang dingin.
Aku menunggu kamu berubah. Bersabar untukmu demi keluarga kecil, tapi ingat kesabaran itu ada batasnya.